Selamat Datang dan Membaca di Lautan Ilmu Kami...

Jumat, 14 Oktober 2011

Tasawuf dan Pembangunan Nasional

Cita-cita bangsa Indonesia untuk menumbuhkan dan mengembangkan pembangunan nasional serta mengangkat kembali nilai-nilai kebudayaan lokal dan membawa ke pintu dunia internasional adalah bukan mustahil apabila dalam pembangunan nasional tersebut mendasarkan diri atau berakar pada nilai-nilai kerohaniaan melalui spirit tasawuf. Tidak mustahil kalaulah tasawuf turut dibutuhkan oleh setiap warga negara dan aparatur pemerintah dalam mensukseskan dan merealisasikan pembangunan nasional yang merata dan keadilan ekonomi yang seimbang.
 
Dimensi tasawuf secara kerohaniaan (ruhaniyah) akan mendorong dan memotivasi rasa kepercayaan diri bangsa dan warga negaranya untuk mampu bersama-sama membangun peradaban bangsa baik dari aspek perpolitikan, ekonomi, pendidikan, sains-teknologi, media-informasi, kerukunan antarumat beragama, dan kesehatan. Dimensi tasawuf yang dimaksud disini bukanlah berarti ia memberikan sumbangan ide-ide pokok pikiran yang berkaitan dengan mekanisme pembangunan. Akan tetapi tasawuf memberikan sendi-sendi moral dan spiritual yang dapat menjaga konsistensi pembangunan peradaban tersebut.
 
Di daalam tasawuf, syariat, tarekat dan hakikat adalah terdiri dari beberapa unsur yang berbeda namun menjadi satu kesatuan yang saling berhubungan. Sebuah pelaksanaan syariat tidak akan mencapai kesempurnaan apabila tidak menapaki tarekat. Begitu pula tarekat akan bermakna sia-sia bilamana tidak mau melakukan syariat agama. Adapun syariat itu juga sangat bertautan sekali dengan hakikat, oleh karna syariat adalah sikap konsisten dan konsekuen melakukan ibadah kepada Allah untuk hanya menghambanya yang sesuai diajarkan oleh Nabi Muhammad, disini peran hakikat dibutuhkan karna untuk memotivasi seorang pejalan spiritual untuk dapat memahami dan menghayati makna ketuhanan (rububiyah) murni kepada Allah semata. Sehingga apabila semua syariat tanpa diperkuat dengan hakikat maka tidak dapat diterima, dan sebaliknya apabila hakikat tanpa dilaksakannya syariat maka tidak dapat berhasil, karna syariat datang untuk mentaklif makhluk dengan ibadah, berzikir dan lainnya sementara hakikat datang untuk menumbuhkan rasa pengenalan terhadap Sang Khaliknya, seperti ikhlas, khusyuk, bersabar, istiqamah, amanah dan seterusnya.
 
Membangun peradaban pada sebenarnya adalah kewajiban bagi umat muslim. Hal ini merupakan perintah ilahi dan sunnah Nabi Muhammad SAW untuk memakmurkan (development) dan membangun peradaban manusia (establisment) di muka bumi. Artinya, manusia dituntut untuk selalu berkreasi demi kebaikan, kebenaran dan perdamaia untuk pencapaian kebahagiaan di dunia dan di akhirat nanti. Keharusan membangun peradaban ini tercerminkan dalam taklif yang dibebankan atau diamanahkan kepada manusia ;” “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena (tulisan dan bacaan). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” Tuntutan manusia untuk selalu belajar dan beramal yang diajarkan oleh Allah sebagaimana Nabi Adam diajarkan nama-nama semua yang ada di alam raya ini.
 
Tuntutan ilahi tersebut mengharuskan manusia untuk senantiasa melakukan pembangunan industrialisasi peradaban dan pengembangan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan sebagaimana yang tercerminkan dalam ayat: ” Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.” Dan ayat ;” Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar.” Kemudian ayat lain ;” Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka itu adalah lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi.” Dari sini kita dapat menarik inti sari bahwa untuk melakukan pencarian dan pengamatan terhadap sejumlah tanda-tanda kebesaran Allah di alam dunia ini, membutuhkan perangkat dan metode yang mana harus terus menerus dibaca, dipelajari dan diteliti agar mendapatkan sebuah kebenaran yang obyektif.
 
Oleh karna itu, apabila bekerja (al ‘amal), belajar, menulis dan membaca fenomena kejadian orang-orang terdahulu adalah wajib dan fardhu dengan tujuan dapat membangun peradaban dan pengembangannya (“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya.” ). Maka, secara otomatis kefardhuan pembangunan nasional menjadi syariat agama yang tidak dapat disepelekan, karna alasan pertama, sudah jelas bahwa tarekat tanpa syariat itu ompong, dan syariat tanpa tarekat itu kosong, begitu pula hubungan syariat dengan hakikat. Alasan kedua, pembangunan nasional menjadi syariat agama karna pembangunan nasional adalah untuk menciptakan kemaslahatan umat dan kesejahteraan umum, sementara agama islam datang untuk kemaslahatan umat manusia dan untuk kebaikan dan kebahagiaannya di dunia dan akhirat nanti. Alasan ketiga, bahwa dalam tasawuf tidak ada yang diprioritaskan kecuali kepatuhan dan kesalehan terhadap perintah Allah, untuk kemudian diteruskan penggalian dan pencarian tanda-tanda kebesaran-Nya yang sesuai dengan perintah Ilahi, tuntutan beramal shaleh dan menebarkan kebaikan (amar ma’ruf).
 
Implementasi tasawuf dalam pembangunan nasional ini, bukan hanya dialamatkan kepada setiap warga saja, akan tetapi para anggota dewan, pemerintah dan aparatur negara. Konsep-konsep station yang ada di dalam ilmu tasawuf (maqamat) dengan exercise (riyadhah), usaha dan bermujahadah, para penguasa dapat mengaplikasikannya dalam kinerja roda pemerintahan, kebijakan hingga pemutusan undang-undang. Dengan berusaha untuk tetap istiqamah (konsistensi) berasas pada kebenaran dan keadilan sosial seharusnya dan sepantasnya para penguasa lebih bersikap wara’ (tidak tamak), ikhlas, sabar dan cinta kepada sesama manusia dan bangsa. Maka tidak sepantasnya sebagai pemegang roda pemerintahan, para penguasa lebih mementingkan isi perut dan saku pribadi daripada keadilan dan kesejahteraan umum. Sikap tamak yang terefleksikan dalam contoh kasus tidak disosialisasikannya proyek pembangunan nasional atau pemerataan ekonomi sosial kalau tidak ada dana hibah dan dana syukuran bagi para penguasa sebagai juru keputusan kebijakan tersebut, adalah contoh kekosongan hati nuraninya dari nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh tasawuf islam. Oleh karna itu, tasawuf disini berperan dan berfungsi sebagai pengekang hawa nafsu dari kejahatan-kejahatan nafsiyah hewaniyah tercela yang berdampak besar bagi kelangsungan hidup orang banyak.

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger | Blogger Templates | Business Credit Cards