Selamat Datang dan Membaca di Lautan Ilmu Kami...

Jumat, 30 September 2011

SEJARAH PERTUMBUHAN PEMIKIRAN ISLAM DI BELANDA

BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Eropa, menurut pandangan kebanyakan orang, adalah gudang orang-orang non-muslim dan selalu sinis akan pergerakan pertumbuhan umat islam secara umum karna mempunyai catatan sejarah hitam dengan kaum muslimin atau setelah terjadinya perang Salib antara komunitas agamawan Kristen dengan Umat Islam. Akan tetapi setelah terjadinya peristiwa perang Dunia Kedua, islam mampu menunjukkan jati dirinya dihadapan milayaran orang-orang Eropa dalam berkomunitas, berinteraksi secara benar dengan penuh kerukunan dan kedamaian. Sehingga orang Muslim dapat diterima oleh kebanyakan orang Eropa dalam pergaulan dan pertemanan sehari-hari.

Belanda yang lebih dikenal dengan istilah negeri Kincir Angin yang terletak di Eropa bagian Utara, mempunyai banyak cerita dengan Islam. Kontak langsung maupun tidak langsung dalam catatan sejarah kolonial, Belanda sering berjumpa dan mendatangi komunitas Muslim di belahan dunia secara umum, dan di benua Asia secara khususnya. Melalui hubungan perdagangan internasional, perkawinan silang ataupun penjajahan dibeberapa wilayah Asia membuat Bangsa Belanda telah mulai mengenal Islam sebelum terjadinya perang Dunia I.

Setelah terjadinya Perang Dunia Kedua, islam mulai tumbuh berkembang di negara-negara benua Eropa, khususnya Belanda. Pada masa ini, Negara Belanda membutuhkan para tenaga kerja untuk melanjutkan cita-cita negara dalam pembangunan dan peningkatan kwalitas dari beberapa aspek nasional. Oleh karna itu banyak Imigran asing yang beragama Islam berdatangan, yang ketika itu masih didominasi oleh Imigran Turki dan Maroko. Dengan semakin nampak Perkembangan dan peningkatan jumlah orang Imigran Muslim di Belanda ini, mengharuskan untuk membuat satu tempat peribadatan (Mesjid) guna mereka dapat melaksanakan ibadah-ibadah wajib secara berjama’ah. Namun, seiring perkembangan mereka pesat dan semakin bertambah penduduk asli masuk Islam, ketika terjadi peristiwa 11 September di Gedung WTC Amerika, umat Islam yang mana sebagai kaum minoritas di negara-negara barat pada umumnya, dan di Negara Belanda pada khususnya membuat sudut pandang orang-orang Pribumi Belanda berubah 100%. Mereka menganggap Islam merupakan agama berpaham ekstrimisme (sarat kekerasan), sementara orang-orang Muslim dicapnya sebagai Teroris besar yang ingin menguasai dan menjajah dunia Barat. Sehingga menghambat laju perkembangan umat Muslim sendiri di Belanda.

Pada kenyataannya, setelah kejadian 11 September, Islam di Eropa tidak membuat penduduk Eropa sipil menjauhi dan allergi terhadap Islam, justru mereka bertambah rasa keinginan tahu dan penasaran apakah benar Islam seperti yang diberitakan oleh media massa pada umumnya, bahwa Islam menginginkan untuk menggilas orang-orang barat dengan cara yang ekstrim seperti itu?. Semakin penasaran, mereka semakin bertamabah keinginan untuk mempelajari Islam secara mendalam, dengan mengikuti pengajian-pengajian, diskusi dengan beberapa tokoh Muslim di Eropa hingga mengkaji secara khusus terhadap sumber-sumber primer Islam yaitu Al Quran dan Hadis. Telebih lagi mereka ingin mengenal secara benar, kehidupan dan etika tokoh suri tauladan Muslim sejati, Nabi Muhammad Shallawahu alaihi Wa sallam.

B. Rumusan Masalah

Dalam tugas Final Paper ini, penulis akan membatasi masalah yang berkenaan dengan judul makalah “Sejarah Perkembangan Islam Di Belanda” sebagaimana berikut ini :
1) Bagaimana sejarah masuknya Islam di Belanda ?
2) Bagaimana perkembangan Pemikiran Islam di Belanda ?


C. Pokok Pembahasan
Penulis akan menyampaikan beberapa pokok pembahasan dalam draft makalah ini, dengan harapan agar dapat mengetahui batasan-batasan pembahasan yang pokok, sehingga tidak melebar jauh dan lebih fokus dengan permasalahan yang terkait. Adapun pokok pembahasannya adalah sebagaimana berikut :

1) Sejarah singkat masuknya Islam di Benua Eropa
2) Sejarah masuknya Islam di Belanda
3) Pertumbuhan Islam di Belanda
4) Perkembangan Islam di Belanda dalam aspek Organisasi Islam
5) Perkembangannya di Belanda dalam aspek Pendidikan Islam

BAB II :
SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI BELANDA

A. Sejarah Singkat Masuknya Islam di Eropa

Pada masa silam, Eropa telah melihat orang-orang Muslim membentuk diri mereka dan tumbuh berkembang dengan subur di beberapa wiliyah bagian benua Eropa. Tiga daerah yang paling penting di mana orang-orang Muslim mampu berkembang baik dan membentuk komunitasnya adalah Andalusia (Spanyol dan sebagian Portugal Muslim) , Sicilia, Ciprus dan Creta.

Perjalanan ekspedisi orang-orang Muslim ke benua Eropa, dimulai kehadirannya yang sangat luar biasa pada tahun 711 M, ketika Jenderal Muslim yang bernama Musa Bin Nushair dari barisan tentara Afrika Utara, mengirimkan pasukan sejumlah 30.000 orang dengan dipimpin oleh Panglima Komando Muslim, Tariq bin Ziyad menuju Semenanjung Iberia, Andalusia untuk memberikan pertolongan perlawanan terhadap para penguasa Jerman, keturunan Vandal setelah melakukan penganiayaan kejam terhadap penduduk Iberia setempat. Melalui Selat Jabal Tariq (Gibraltar : Gunung Tariq) umat islam membuka cakrawala prospektif keluar negara dalam penyebaran agama yang secara psikologis adalah alamiah dan sebuah kewajaran seorang untuk mencontohkan sikap prilaku yang dibimbing secara tidak langsung oleh ajaran-ajaran agamannya.[1]

Setelah sembilan abad lamanya dari kehadiran meraka di tanah Eropa bagian barat ini, masyarakat Muslim di Andalusia musnah pada tahun 1614 M, ketika orang-orang Morisco (orang-orang Muslim Spanyol yang dibaptis secara paksa) yang terakhir meninggalkan Spanyol berdasarkan perintah dekrit pengusiran tahun 1609 yang dikeluarkan oleh Raja Spanyol (Raja Ferdinand yang menikah dengan Ratu Spanyol, Isabel). [2]
Selama rentang hidup 903 tahun, di Andalusia peradaban Islam tumbuh dengan subur dalam satu bentuknya yang paling gilang gemilang. Andalusia juga merupakan pusat pendidikan Islam yang sangat cemerlang, di mana radiasinya menjangkau seluruh Eropa. Berbagai orang dari segala penjuru Eropa berlalu lalang dan keluar masuk melalui pintu Andalusia ini, guna mempelajari filsafat Islam dan beberapa disiplin ilmu keilmiahan. Proses inilah dalam catatan sejarah Islam, yang menjadi starting point (titik awal) dari kehadiran Islam di Bumi Eropa sebelum akhirnya diperluas dengan ekspansi yang dilakukan oleh daulah Turki Usmani di Eropa Bagian Timur (Yugoslavia, Albania, Bosnia, Macedonia, Bulgaria, dll). [3]

Sekarang, hanya beberapa ribu dari orang-orang Muslim ini yang telah kembali kepada Islam di Andalusia, membentuk minoritas Muslim baru yang sedang berkembang. Namun, jutaan keturunan orang-orang Andalusia ini berpencar-pencar di negara-negara Muslim sekitar Laut Tengah, terutama di Afrika Utara, dan dengan senang hati, masih saja menyimpan kenangan asal usul mereka dan budaya mereka seperti musik, masakan, dialek, nama akhir dan seterusnya.[4]

Kontak peradaban antara Islam dan Barat sudah lama berkenalan bahkan telah berjabat tangan jauh sebelum datangnya tentara-tentara kolonial barat di Timur Tengah, sehingga hal ini mengindikasikan bahwa pemikiran Islam telah memasuki wilayah-wilayah Eropa, dengan secara tidak langsung meningkatkan angka pertumbuhan dan perkembangan Islam di Dunia Eropa tersebut.

B. Sejarah Masuknya Islam Di Belanda

Pada dasarnya, komunitas – komunitas Muslim yang sekarang hidup di Eropa dapat dibagi menjadi dua kategori : komunitas Muslim yang bertahan hidup setelah kejatuhan atau keruntuhan Imperium Usmani, yang mana komunitas ini terkonsentrasi di titik daerah Eropa Timur. Dan yang satu lagi, komunitas-komunitas Muslim yang melakukan imigrasi karena dibawa oleh tentara Kolonial Eropa pada masa kolonisasi di daerah-daerah atau negeri-negeri Muslim, seperti komunitas orang Jawa yang dibawa oleh tentara Belanda ke negeri Suriname dan kini ikut andil dalam siar Islam di Belanda itu sendiri. Adapun komunitas yang kedua ini terkonsentrasi pada umumnya di Eropa Barat.

Pengalaman kolonisasi bangsa Belanda terhadap bangsa Indonesia, memang memberikan bekas luka yang sangat mendalam. Selama kurang lebih dari 350 tahun lamanya, rakyat Indonesia yang pada waktu itu sudah banyak yang memeluk Islam telah sering mendapatkan perlakuan tidak manusiawi menurut catatan sejarah kehidupannya. Kolonisasi Belanda yang menghancurkan cita-cita luhur rakyat dan bangsa Indonesa tersebut, ternyata mempunyai titik trend positif dalam pengenalan mereka akan entitas agama Islam. Hal ini mungkin saja tidak tercatat dalam sejarah bahwa adanya kemungkinan orang Belanda atau kompeni Belanda masuk Islam ketika itu. Kita bisa melihat pada zaman VOC, terdapat orang keturunan Belanda asli pertama kali yang masuk agama Islam (Konversi) yaitu Ivan de Veenboer.[5]

Meskipun demikian, secara tidak langsung mereka datang membawa ajaran agama lain, Kristen, yang mana mereka termasuk kelompok Missionaris Kristen Barat. Mayoritas orang Muslim Eropa Barat dapat ditelusurinya ke periode kolonisasi (penjajahan). Memang, ekspansi penjajahan Eropa di abad sembilan belas dan dua puluhan berakhir dengan penggabungan kebanyakan dunia Muslim. Penjajahan mengubah budaya dan ekonomi negeri-negeri Muslim, secara kultural menghubungkan masing-masing bekas jajahannya dengan kekuatan penjajah dan mengubah ekonominya ke dalam ekonomi konsumsi produk-produk ekspor. Kekuatan penjajah berakhir tidak hanya dengan mengimpor bahan baku dari bekas daerah jajahannya. Tetapi juga membawa tenaga kerja ketika tenaga kerja setempat tidak cukup untuk perluasan ekomomi pada tahun 1960-an. [6]

Imporisasi bahan baku atau rempah-rempah dan tenaga kerja dari bekas negeri jajahannya. Setidaknya membawa angin segar bagi tenaga kerja Muslim Indonesia yang kebanyakan turut diboyong ke Belanda disamping untuk dapat mengembangkan laju roda perekonomian dirinya, juga dapat menyiarkan agama Islam di Islam dengan tentunya mendirikan Musholla atau Mesjid yang tidak dapat dicegah dan dicekal lagi oleh pemerintah Belanda semenjak munculnya asas Hak Asasi Manusia (Humans Rights).

Dalam catatan sejarah kolonisasi Belanda, setidaknya ribuan orang-orang Jawa Muslim diangkut dan diboyong untuk ditempatkan di negeri yang terletak di Amerika Latin, Suriname. Negeri ini merupakan tanah jajahan Belanda yang kekurangan penduduk untuk dapat dijadikan tenaga kerja dalam bercocok tanam, penggalian barang tambang, atau sekedar menjadi buruh kasar. Setelah kejadian perang Dunia II, Suriname yang mayoritas penduduk asli Jawa mendapatkan legitimasi sebagai negara persemakmuran dibawah otoritas negara Kerajaan Belanda yang dikepalai oleh seorang ratu yang bernama ratu Beatrix[7]. Masyarakat Suriname yang rata-rata Muslim tersebut dalam urusan kenegaraan pastilah sering keluar masuk Belanda, sehingga atmosfer pengaruh keislamannya turut mewarnai jalannya kenegaraan di Belanda secara umumnya dan pengaruh lingkungan terhadap rakyat Belanda itu sendiri secara khususnya.

Dalam catatan sejarah juga, tepatnya pada tahun 1951-1952. Sekitar 12 ribu anggota KNIL (Koninklijk Nederlandse Indische Leger ) yang sebagian besar berasal dari Maluku, sebanyak 200 di antaranya beragama Islam datang ke Belanda. Mereka yang semula ditempatkan dalam satu kamp dengan non-Muslim, lalu memisahkan diri dan bergabung dengan sesama Muslim di kamp Wijldemaerk, Desa Balk, Provinsi Friesland. Dan di sinilah mereka membangun salah satu masjid pertama di Belanda, Masjid An-Nur yang dipimpin oleh Haji Ahmad Tan.

Namun, menurut fakta sejarah bahwa orang islam pertama yang datang ke Belanda adalah Abdus Samad, Duta Besar Kesultanan Aceh untuk Belanda, pada tahun 1602. Sebagaimana dikutip oleh Muhammad Hisyam dalam buku PPME (Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa) dari buku karya Harry A Poeze, In het Land van de Overheerser. Akan tetapi kedatangan Abdus Samad ini tidak bertujuan untuk dakwah Islam, ia hanyalah melakukan kunjungan singkat saja sebagai Duta dari kerajaan Aceh Darussalam. [8]

Hingga pada tahun 1960-an, menjadi kunci awal (starting point) akan pertumbuhan dan perkembangan umat Muslim di Belanda, disaat pemerintah Belanda kekurangan tenaga kerja sehingga mengharuskannya untuk mendatangkan tenaga kerja asing, yang mayoritas kebanyakan dari kawasan mediteranian. Imigran Turki dan Maroko yang kemudian menjadi pensiar Agama Islam di Belanda dengan menentukan hari libur jumat sebagai hari libur mereka, disamping itu juga mendirikan Masjid tertua yaitu Enre Yunus Masjid di Almelo.[9]



C. Pertumbuhan Islam di Belanda

Di Belanda yang sistem pemerintahannya mengikuti paham Monarki Konstitusional ini, memiliki jumlah penduduk yang cukup banyak untuk negara yang berkembang di Benua Eropa. Sekitar 15.341.553 jiwa penduduk negara Belanda untuk saat ini. Pada tahun 1950-an Islam dibawa ke Negeri Kincir Angin tersebut oleh para tenaga kerja asing (imigran) Muslim pertama yang datang antara dua negara perang dunia dari bekas jajahanya, yaitu Indonesia dan Suriname. Jumlah mereka sangat terbatas, hanya mencapai 5.000 orang saja. Dalam sisi yang lain, yaitu pada tahun 1947, Islam juga masuk ke Belanda dibawa oleh sekelompok missionaris Muslim dari gerakan Ahmadiyah dan Qadian dari Pakistan. Mereka ada sebagian yang menuntut ilmu sains di Belanda dan sebagian lain ada pula yang menjadi buruh kerja sehingga peningkatan angka umat Muslim di Belanda semakin meningkat dan meninggi. Terlebih lagi, setelah kedatangan Imigran dari kawasan Mediteranian, Maroko dan Turki pada tahun 1960-an.

Ketika pemerintah Belanda menerapkan sistem politik etis di Belanda, maka hal ini tidak disia-siakan oleh komunitas Muslim di Belanda, mereka mendirikan perkumpulan organisasi Muslim pertama yang berusaha menghimpun semua Muslim yang berdasarkan negaranya masing-masing yang hidup di Belanda. Organisasi Muslim Indonesia pertama didirikan oleh seorang Belanda yang bernama Van Beetem pada tahun 1930-an yang kemudian berganti nama menjadi Mohammad Ali. Dengan kegigihannya memperjuangkan organisasi Muslim pertama ini akhirnya membuahkan hasil dengan di akuinya dan dilegitimasi oleh pemerintahan Belanda.[10] Pada tahun 1974 , organisasi-organisasi semacam itu diintegralkan menjadi satu perkumpulan yang kemudian membentuk persatuan Organisasi-Organisasi Islam (Islamic Organisation Union) di Belanda. [11]
Pada tahun 1960-an ini, orang-orang Belanda merasakan atmosfer keislaman yang mendalam sehingga tepatnya pada tahun 1963, setidaknya terdapat 300 orang Belanda asli yang memeluk agama Islam (Konversi). [12] Pada tahun 1971, sekitar satu persen penduduk negeri Belanda atau sekitar 132.000 adalah Muslim. Pada tahun 1982, angka ini naik menjadi sekitar 400.000 (2.8% dari jumlah penduduk), jumlah Muslim ini terdiri dari 220.000 orang Turki, 100.000 orang Afrika Utara, 40.000 orang Melayu (Indonesia dan Melayu) dan 40.000 Muslim warga negara Belanda dengan rincian 2.000 penduduk asli Belanda dan sisanya dari berbagai negara yang telah menjadi warga negara Belanda (proses Naturalisasi). [13]

Berdasarkan data statistik Central Bureau de Statistiek 1994, jumlah umat islam dari 15.341.553 jumlah penduduk Belanda saat itu, menempati posisi ketiga (3,7 persen), setelah Katolik Roma (32 Persen), dan Kristen Protestan (22 persen). Sebanyak 40 persen warga Belanda mengaku tidak beragama, dan sekitar 0,5 persen pemeluk agama Hindu. Pada tahun 1993 pertumbuhan jumlah umat Muslim di Belanda meningkat pesat menjadi 560.300 jiwa. Kenaikan rata-rata 0,6 persen setahun. Umat islam itu berasal dari Turki (46 persen), Maroko (38,8 persen), Suriname (6,2 persen), Pakistan (2,2 persen), Mesir (0,7 persen), Tunisia (0,9 persen), Indonesia (1,6 persen) dan lainna (3,9 persen). [14]

Pada akhir tahun 2004, perkiraan jumlah umat Islam di Belanda meningkat sekitar 944.000 Muslim, dan 6.000 diantaranya adalah warga asli Belanda.[15] Hingga pada awal tahun 2010, umat Islam murni dari Bangsa Belanda sendiri sudah mencapai angka kurang lebih 12.000 dari jumlah penduduknya yang ada sekitar 15 jutaan lebih. [16]
BAB III :

SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM DI BELANDA

Perkembangan Islam di Belanda yang semakin aktual dan menemukan titik pelonjakan yang pesat seperti yang terjadi di negara-negara Eropa lainnya, merupakan sebuah jawaban balik atas berita-berita media massa yang mengkhabarkan publikasi negatif seputar Islam. Sudah tidak heran lagi, kalau upaya stigmatisasi negatif terhadap ajaran Islam dan sikap marginalisasi warga Belanda kepada orang Muslim kerap terjadi, meski orang Muslim tersebut adalah keluarganya sekalipun. Informasi-informasi negatif yang mendominasi media massa dan wacana perpolitikan yang dikembangkan oleh parpol-parpol di Binnenho, Den Haag, mengenai tentang Islam teroris, fundamentalis, radikal, dan wacana politik tentang Islam achterlijk (terbelakang), jilbab, pembauran, pengangguran dan lain-lain, ternyata mendatangkan efek sebaliknya yang lebih positif bagi perkembangan pertumbuhan Muslim di Belanda.

Koran Algemen Dagblad (AD), salah satu koran berpengaruh di Negara Belanda, mengangkat tema tentang perkembangan Islam di Belanda dalam edisi selasa (28/10/2003) lalu, atau hari kedua dari Bulan Ramadhan, dengan judul utama Steeds Meer Nederlanders Bekeren Zich tot Islam (Makin Banyak Orang Belanda Masuk Islam). Disebutkan, bahwa setiap tahunnya orang Belanda yang masuk agama Islam mencapai jumlah ratusan. Baik pria maupun wanita Belanda banyak yang tertarik dengan Islam, mempelajarinya, lalu menyatakan diri sebagai Muslim. Namun, karena orang-orang Belanda yang masuk Islam itu tidak tercatat secara resmi, maka jumlah pastinya tidak diketahui.

Menurut A. Quyyoem dari Lembaga Moslem Informatie Centrum Nederland (Pusat Informasi Muslim Belanda) mengatakan bahwa setidaknya tahun 2006 lalu, ada sekitar 150 orang Belanda yang masuk Islam, lebih banyak jumlahnya dari tahun-tahun sebelumnya yang terjadi di bawah asuhan lembaganya. Di samping itu, ia memprediksikan setiap tahun sekurang-kurangnya ada 100 orang yang menyatakan masuk Islam di Masjid-masjid ataupun rumah-rumah yang lain. [17]

Sedangkan menurut Darwisj A. Maddoe dari Nederlandse Moslim Raad (Dewan Muslim Belanda) memperkirakan bahwa saat ini angkanya berkisar antara 20.000 sampai 30.000 orang. Sebagaian orang menikah dengan seorang Muslim, akhirnya menerima agama sang suami, sebagian adalah orang Imigran dan sebagian lain ada yang memang murni dengan sendirinya mendapatkan hidayah dan masuk Islam melalui pembelajarannya yang lama dan mendalam terhadap al Quran. Seperti yang terjadi kepada salah satu mahasiswi manajemen di Universitas Erasmus Rotterdam, yang bernama Marianne Vorthoren (25 tahun). Setelah terlebih dulu mempunyai sikap skeptis terhadap Islam setelah peristiwa serangan 11 September, yang membuat orang-orang Belanda berfikir dan penasaran terhadap al Quran apakah benar Islam mengajarkan perihal yang memang seburuk itu. [18]


A. Perkembangan Pemikiran Islam Di Belanda Dalam Aspek Keorganisasian

Islam di Belanda pada awalnya diperkenalkan oleh sekelompok Mubaligh Ahmadiyah dari Pakistan. Kelompok yang menamakan dirinya dengan Holland Mission ini giat dalam melakukan dakwah dan syiar agama Islam baik melalui diskusi ataupun tulisan. Dan pada tahun 1953 mereka menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Belanda.

Selain Ahmadiyah, Islam mulai berkembang melalui orang-orang Indonesia Maluku eks tentara KNIL. Ketika pemerintah Belanda menerapkan politik eris, orang-orang Indonesia yang sebagian besar beragama Islam, semakin berdatangan ke Belanda. Dan puncaknya pada tahun 1930-an, mereka mendirikan “Perkoempoelan Islam”. Organisasi ini digagas oleh seorang berdarah Belanda yang bernama, Van Beetem yang kemudian berganti nama menjadi Mohammad Ali. Positifnya, organisasi ini telah mendapatkan pengakuan secara resmi dari pemerintah Belanda dan merupakan satu-satunya Organisasi Islam pertama yang mendapatkan legitimasi pertama oleh pemerintah Belanda.

Pada akhirnya di tahun 1960-an bermunculan organisasi-organisasi Muslim yang dilakukan oleh orang-orang Muslim dari berbagai negara untuk dapat menghimpun warga negaranya masing-masing yang beragama Islam. Seperti Muslim Maluku, Ahmadiyah , Maroko, Suriname dan Tunisa telah mendirikan organisasi, tempat ibadah, dakwa dan membina agama bagi kelompoknya masing-masing.

Pada tahun 1971, Muslim Indonesia pun membentuk kelompok persatuan tersendiri, selain organisasi Perkoempoelan Islam, yaitu turut berdiri pula Persatuan Pemuda Muslim se Eropa (PPME). PPME yang hingga kini tetap bertahan, didirikan oleh mahasiswa dan pemuda Indonesia di Belanda dan Timur Tengah. Dipicu oleh kegiatan diskusi intensif, para pemuda dan mahasiwa di perantauan tersebut akhirnya menyepakati akan dibentuknya sebuah organisasi. Belanda dan Jerman ditunjuk atau dipilih sebagai negara untuk pertemuan-pertemuan kegiatan kemahasiswaan dan kenegaraan itu.

Pertemuan pertama diadakan pada musim dingin awal Januari 1971 di Den Haag. Hadir pula ketika itu dari Rotterdam seperti Gus Dur, T Razali, Moh Chaeron, A Hambali Maksum, Abdul Muiz Kaderi, Rais Mustafa, dan Moh Sayuti Suaib. Dari Den Haag diwakili oleh Ramhat Zitter, Amir Al Hajri dan Jus Muhtar, sedangkan dari Jerman oleh Abdul Wahid Kadungga, Ali Baba dan A. Donny. Pada 12 April 1971, PPME resmi dibentuk. Ketua yang terpilih ketika itu adalah Abdul Wahid Kadungga, sekretaris Hambali Maksum. Gus Dur ketika itu diunggulkan memimpin organisasi ini, namun ia menolak karena berencana pulang ke Indonesia.

Setelah PPME terbentuk di Belanda, dua tahun kemudian di Jerman dibentuk pila PPME lebih tepatnya di tanggal 19 Januari 1973. Namun, dengan berdirinya PPME di Jerman, status PPME Belanda akhirnya dinaikkan menjadi Dewan Pimpinan Pusat PPME, sedangkan Jerman menjadi Dewan Perwakilan Wilaya. Dan juga dibentuk DPW lain, seperti DPW Holland dengan cabang antara lain Amsterdam, Den Haag, Rotterdam dan Delf. Sementara di Jerman, dibentuk cabang Dortmund, Frankfurt, Darmstadt, Offenbach, Giessen, dan Berlin.[19]

Dalam perjalanannnya, PPME menyadari akan posisi umat Muslim Minoritas di Belanda, akhirnya menjalin kerjasama dengan organisasi-organisasi Islam Internasional. Kontak hubungan kerjasama pertama dilakukan denga Mu;tamar Al ‘Alam al Islami di Pakistan, Muslim world League di Mekkah, Rabithah al-‘Alam al Islami di Mekkah dan World Assembly of Muslim Youth (WAMY) di Riyadh. Hubungan kerjasama ini membahas tentang perihal distribusi buku-buku dan informasi-informasi keislaman dan tentunya menjalin tali Ukhuwah antar Muslim di Dunia.
Hubungan kerjasama juga dilakukan dengan organisasi-organisasi Islam di Belanda dan Jerman, antara lain dengan Organisasi Islam Turki, Maroko, Tunisia, dan Suriname. Di Belanda, juga berdiri Nerlandse Ismaitische Parlement (NIP), organisasi yang bergerak dalam bidang penggalangan dan penyatuan organisasi-organisasi Islam di Belanda. Selain itu ada pula Federasi Organisatie Muslim Nederland. Federasi ini berfungsi mewakili kepentingan umat Islam dalam hubungannya dengan Pemerintah Belanda. Hubungan PPME dengan organisasi-organisasi itu antara lain menyangkut tentang saling tukar pikiran dan informasi. Dalam skala besar, PPME menjalin hubungan dengan Rabithah Alam Islami, Dewan Islamiyah Indonesia (DDII), dan Stichting Der Islamitische Gemeenten in Suriname (SIS), dalam pengiriman dai-dai ke Suriname. Melalui PPME ini pula, sejumlah alumni Timur Tengah berhasil direkrut sebagai guru agama di Suriname.

Dalam kegiatan dakwah dan sosial, PPME antara lain melakukan pengislaman (Islamisasi), mengorganisasi perjalanan haji dan umroh, pernikahan, dan memelihara solidaritas kekeluargaan. Dalam pengislaman, menurut laporan kerja kepengurusan periode pertama (71-73), PPME mengislamkan 21 orang (enam laki-laki, 15 perempuan). Pada tahun 1984-1986 sebanyak sembilan orang yang terdiri dari orang Indonesia, Belanda, dan Inggris yang masuk Islam. Periode berikutnya sebanyak enam keluarga atau 33 orang. Dan jumlah seluruhnya tidak ada pencatatan secara resmi dalam bentuk data tahunan.

PPME juga memanfaatkan fasilitas yang diberikan, media elektronik dalam berdakwah. Melalui Kepala Seksi Siaran Bahasa Indonesia di Radio Hilversum, Ny Ardamar Sudji, pada 1970-an PPME diberikan kesempatan untuk mengisi siaran khusus Mimbar Jumat di radio tersebut.namun sejak Januari 1994, acara itu ditiadakan lagi karena munculnya peraturan dari Pemerintah Belanda untuk menghapus acara-acara yang tidak diprioritaskan atas pertimbangan keuangan yang ada. [20]

B. Perkembangan Pemikiran Islam Di Belanda Dalam Aspek Pendidikan

Perkembangan Islam di Belanda semakin menemukan arah kedepan dan pertumbuhannya semakin mendapatkan perhatian mendalam dari warga Belanda dan semakin meningkat jumlahnya. Maka diperlukannya sebuah wadah untuk mengayomi umat Muslimin di Belanda dalam melakukan ibadah ajaran Islam (shalat berjamaah, shalat jumat, dll) dan kegiatan-kegiatan keagamaan Islam lainnya seperti pengajian, pengajaran rutin mengenai Islam, penyebaran Dakwah, pengumpulan zakat, sedekah dan pengurusan hewan kurban. Dalam hal ini tidak heran lagi kalau sampai saat ini, jumlah Masjid di Belanda sudah mencapai 300-an lebih buah Masjid yang tersebar di Belanda. Pengadaan Masjid ini akan semakin bertambah seiiring sejalan dengan bertambahnya angka perkapita jumlah Muslim di Belanda.

Pada tahun 1990 saja, jumlah Masjid yang terdapat di seluruh Belanda sudah mencapai 300 Masjid. Ini meningkat jauh dari tahun 1971, yang ketika itu terdapat hanya beberapa gelintir buah, diantaranya Masjid Mubarak yang didirikan oleh kalangan Ahmadiyah (1953) dan Masjid Maliki An Nur di Balk, yang didirikan oleh anggota eks-tentara KNIL (Koninklijk Nederlandse Indische Leger).

Pembangunan masjid sebagai sarana ibadah umat Muslimin akan semakin berlanjut , mengingat semakin besarnya jumlah masyarakat Belanda yang masuk Islam dan bertambahnya pendatang asing Muslim dari berbagai negara. Namun, pendirian bangunan baru di Belanda tidaklah semudah membalikkan tangan, karna kondisi pembangunan yang semakin padat dan luas tanah negara yang sudah tidak memungkinkan untuk didirikan bangunan-bangunan baru, maka tidak heran apabila banyak ditemukan Mesjid bekas gereja di sekitar kota-kota besar Belanda. Oleh karna krisis keyakinan dari warga Belanda kepada ajaran Kristen membuat kian merosotnya angka jamaat mereka yang aktif beribadah di gereja-geraja, dan hal inilah yang mendorong pihak gereja dan yayasan-yayasan agama umat Kristen untuk menjual aset-aset kepada masyarakat umum, baik dijadikan tempat hiburan, museum ataupun tempat ibadah lainnya.

Masjid Baitul Hikmah yang termasuk bekas Gereja Immanuel di Heeswijkpein, Moerwijk kota Den Haag. Dari luar bangunan itu tidak tampak mirip Masjid pada umumnya, rumah panjang bertingkat dua, tanpa kubah. Suasana Masjid baru terlihat bila masuk kedalam yang terdapat Mihrab dan Sajadah yang membentang panjang. Masjid lain yang dulunya Gereja adalah Masjid Tafakkur di Rotterdam, yang diprakarsai oleh organisasi Centrum Santoso Suriname. Masjid yang terletak di Amsterdam Selatan ini, memiliki luas gedung 520 m2, terbagi dalam dua tingkat. Masjid Tafakkur ini dapat menampung sekitar 250 jamaah. Terdiri dari ruangan shalat, ruangan diskusi, ruangan belajar dan ruangan pertemuan.[21]

Di Belanda juga dapat kita temukan sekolah-sekolah Islam dengan model pengajaran Islam, mata pelajaran Islam dan suasana Islami. Pada tahun 2006 setidaknya ada 47 buah sekolah dasar Islam yang terdapat di Belanda, dan dua buah sekolah menengah yaitu College Islam Amsterdam sejak tahun 2001 dan Ibnu Ghaldun Pesantren di Rotterdam sejak tahun 2001. Adapun universitas islam sejak tahun 2005 mungkin baru empat lembaga yang dianggap resmi oleh Pemerintah Belanda. Namun dengan sedikitnya lembaga pendidikan perkuliahan Islam di Belanda tidak menyurutkan arus pemikiran Islam di Negeri Kincir Angin tersebut. Justru malah menjadi pengorbit kaum cendekiawan dari berbagai negara dengan di bimbing oleh pemikir-pemikir Islam ternama sebut saja seperti Abu Hamid Nasr Zaid yang telah mengajar di Universitas Leiden.

BAB IV : KESIMPULAN

Islam sangatlah agama yang membawa kedamaian, dan hal ini dirasakan oleh orang-orang Belanda. Di mana hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya orang-orang Belanda berduyun-duyun ingin tahu sepak terjang agama Islam bagi kehidupan. Serta mendorong mereka untuk mempelajari Islam secara mendalam dan intensif, maka tidak jarang lagi kalau banyak mereka pada akhirnya masuk agama Islam.

Para tenaga kerja yang diboyong oleh tentara kolonial Belanda ataupun tenaga kerja Imigran dari kawasan Mediteranian sangat berjasa akan pertumbuhan dan perkembangan Islam di Belanda, meskipun mereka dijadikan buruh kasar, akan tetapi mereka memiliki prinsip dasar dalam menegakkan dan menyebarkan agama Islam di Bumi Kincir Angin tersebut. Wal hasil tidak tanggung-tanggung sampai kini jumlah penduduk asli Belanda yang Muslim meningkat hingga mencapai angka 12.000an dari jumlah penduduk 15 jutaan lebih. Dan angka ini akan semakin melonjak seiring dengan semakin berkembangnya pemikiran Islam di Belanda.

DAFTAR PUSTAKA

Gibb. H.A.R. Islam Dalam Lintasan Sedjarah (Jakarta, Bhratara, 1961)
Kettani, M. Ali. Muslim Minorities In The World Today, diterjemah oleh Zarkowi Soejoeti, Minoritas Muslim Di Dunia Dewasa Ini, (Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2005)
Kettani, M. Ali. Muslim in Europe & America (Beirut, 1976)
http://groene.nl/2010/46/zijn-moslim-dik
Http://media.isnet.org/islam/Etc/IslamBelanda .html
Mantran, R. “Crete” dalam Islamic Encyclopedia, (Leiden, 1976)
http://erikarianto.wordpress.com/2007/12/29/islam-belanda/, posted on 29 December , 2007
http://www.eramuslim.com/berita/dunia/lebih-dari-12-000-warga-belanda-yang-telah-masuk-islam.htm, posted on Selasa, 02/02/2010 13:07 WIB
tema “Lebih Dari 8 50.000 Muslim di Belanda, CBS Web Majalah, 24 Oktober 2007


________________________________________
[1] Lihat, H.A.R. Gibb. Islam Dalam Lintasan Sedjarah (Jakarta, Bhratara, 1961) Hal. 9-20
[2] Lihat, M. Ali Kettani, Muslim Minorities In The World Today, diterjemah oleh Zarkowi Soejoeti, Minoritas Muslim Di Dunia Dewasa Ini, (Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2005) Hal. 31
[3] Ibid, hal 32
[4] Lihat, M. Ali Kettani, Muslim in Europe & America (Beirut, 1976) hal. 16-21
[5] Lihat, http://groene.nl/2010/46/zijn-moslim-dik
[6] Lihat, M. Ali Kettani, Muslim Minorities In The World Today, diterjemah oleh Zarkowi Soejoeti, Minoritas Muslim Di Dunia Dewasa Ini, (Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2005) Hal.34
[7] Nama lengkapnya adalah Beatriz Wilhelmina Armgad, lahir di Baarn, Belanda, 31 Januari 1938. Ia adalah seorang Puteri Oranje-Nassau, Puteri Lippe-Biesterfeld (prinses van Oranje-Nassau, Prinses van Lippe-biesterveld) adalah Ratu Belanda sejak tahun 1980. Beliau anak sulung dari Pangeran (Prins) Bernhard dan Puteri (Prinses) Juliana. Ia punya tiga adik: Irene (1939), Margriet (1943) dan Christina (1947).
[8] Http://media.isnet.org/islam/Etc/IslamBelanda .html
[9] http://groene.nl/2010/46/zijn-moslim-dik
[10] Http://media.isnet.org/islam/Etc/IslamBelanda .html
[11] Lihat, M. Ali Kettani, Muslim Minorities In The World Today, diterjemah oleh Zarkowi Soejoeti, Minoritas Muslim Di Dunia Dewasa Ini, (Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2005) Hal. 64
[12] Lihat, NRC, Handelsblad, 24 Oktober2007, halaman 7
[13] Lihat, R. Mantran, “Crete” dalam Islamic Encyclopedia, (Leiden, 1976) Hal. 1082-1087
M. Ali Kettani, Muslim Minorities In The World Today, diterjemah oleh Zarkowi Soejoeti, Minoritas Muslim Di Dunia Dewasa Ini, (Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2005) Hal. 63
[14] Http://media.isnet.org/islam/Etc/IslamBelanda .html
[15] Lihat, tema “Lebih Dari 850.000 Muslim di Belanda, CBS Web Majalah, 24 Oktober 2007
[16] http://www.eramuslim.com/berita/dunia/lebih-dari-12-000-warga-belanda-yang-telah-masuk-islam.htm, posted on Selasa, 02/02/2010 13:07 WIB


[17] http://erikarianto.wordpress.com/2007/12/29/islam-belanda/, posted on 29 December , 2007
[18] http://erikarianto.wordpress.com/2007/12/29/islam-belanda/, posted on 29 December,2007


[19] Http://media.isnet.org/islam/Etc/IslamBelanda .html

[20] Http://media.isnet.org/islam/Etc/IslamBelanda .html

[21] http://mualaf.com/islam-is-not-the-enemy/Dunia/Islam/283-islam-di-belanda-bahu-membahu-bangun-masjid

1 komentar:

Nuryana W Lestari mengatakan...

PELIT. G BSA DICOPAS

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger | Blogger Templates | Business Credit Cards